Thursday, September 17, 2009

Lepas Lelah ke Pulau Bangka

Diawali dengan teriakan mami bos mendesak closing penjualan asuransi (sementara saya hanyalah staff bank yang tidak paham asuransi), kemudian Mak muncul dengan ide dadakannya mengajak saya jalan-jalan ke Bangka, akhirnya saya melihat ini sebagai sign dari Tuhan yang mungkin bersabda kepada saya,”Its time for you to take a break. Let me take over your burden for a while”.

Hari Pertama
So, Sabtu pertama bulan September 09, terbanglah saya, Xtin, Mak, dan Korob@ ke Bangka. Kombinasi peserta yang tidak lazim memang, 3 female versus 1 male, fresh meat. Kehadiran Korob@ memberi warna tersendiri dalam trip ini (and lets discuss it deeper in other feature).

Terbang dari Jakarta-Pangkal Pinang dengan Lion Air dengan tiket seharga Rp.299 ribu. Pesawat siang, dan waktu tempuh pesawat cukup singkat, kurang dari 1 jam. Tiba di Pangkal Pinang dijemput sama Gaddys dan Judas, teman-temannya Mak.

Rencananya kita akan tinggal 3 hari 2 malam di Bangka. Malam pertama tinggal di Parai Resort di Sungailiat, dan malam berikutnya di rumah Gaddys di Pangkal Pinang. Rate Parai Resort Rp. 480 ribu/mlm (setelah diskon 50% untuk corporate rate).

Dari airport, kita langsung dibawa makan mie koba di Sungailiat. Mie disajikan dalam kuah ikan berbumbu kecap. Daging ikan dalam kuah hampir tak terasa karena sudah disuwir halus. Kuah yang terasa manis, ditambah perasan jeruk nipis dan sambal, nikmatnya sampai Korob@ nambah 1 porsi lagi.

Satu porsi mie koba seharga Rp. 8.000,-. Di meja tersaji telur rebus yang masih utuh seharga Rp. 2.000,-/butir. Mungkin telur rebus bagi orang Bangka seperti kerupuk bagi orang Jakarta.

Setelah menu mie, Gaddys membawa kita ke toko roti panggang. Roti Tungtao namanya, terletak di persimpangan Jl. Muhidin no. 87, Sungailiat. Menunya berupa roti panggang aneka isi, seperti telur, keju, coklat, selai nenas.

Ditilik dari bentuk warungnya, saya tidak yakin rasa rotinya lebih spesial dari toko roti di Jakarta. Tapi, memang benar kata Gaddys, rotinya memang beda. Like it from the first bite. Entah apa rahasianya, roti panggang isi telur yang saya makan terasa nikmat meski tanpa cipratan mayonaise dan saus tomat, tipikal sandwich Jakarta.

Selesai dari toko roti, kita meluncur ke “Parai Resort”. Terpaan angin laut yang hangat menyapu wajah saya saat turun dari mobil. Oh, I miss beach a lot. Ingin rasanya saya segera turun ke pantai dan membenamkan kedua kakiku dalam pasir yang hangat dan basah.

Tetapi, Gaddys berencana lain. Setelah kami check-in dan menaruh semua barang-barang, Gaddys membawa kita ke Pantai Tanjung Kelayang, tidak jauh dari Parai Resort. Rencananya Tanjung Kelayang dihidangkan sebagai menu pembuka, sementara Pantai Parai dinikmati sebagai main course di hari kedua.

Tanjung Kelayang seperti sebuah secret gateway. Jalan menuju ke sana pun masih jalan bersemak yang hanya dapat dilewati satu mobil, mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Dreamland di Bali.

Begitu turun dari mobil, segera kami menghambur menuju pantai. Sepi dan seperti pantai pribadi bagi kami. Tidak ada pengunjung lain, hanya kami berenam. Untungnya Korob@ ternyata hobby foto, pegang kamera SLRD Canon, sehingga saya berkesempatan difoto, bukan cuma memoto.


Batu-batu berukuran besar terserak di pinggir pantai. Rasanya saya ingin memanjat ke puncak batu yang besar dan merasakan pecahnya ombak di atasnya. Matahari sore jatuh ke celah-celah batu besar dan kecil, sempurna 45 derajat, seolah terdengar sahutan “fotolah saya, inilah rembrant yang sempurna”.

Setelah puas memoto dan difoto dengan berbagai gaya dan posisi, kami pergi saat menjelang gelap. Kami pun kembali ke penginapan untuk menikmati view malam di sekitarnya.

Permainan cahaya lampu di sekitar penginapan tampak sayang dilewatkan tanpa foto-foto. Berusaha mengejar biru tuanya langit menjelang gelap, yang dipadukan dengan cahaya lampu sepanjang jalan. Indah meski mungkin agak blur kalau difoto.

Kami pun mencari tempat untuk makan malam di luar penginapan. Karena sudah lapar, maka pilihan makan malam dilakukan secara acak, apa saja yang kita lewati. Pilihan jatuh pada warung tenda pinggir jalan, ikan & ayam bakar, Cak Biran Lamongan di Jl. Muhidin.

Nasi ditemani kakap dan ayam bakar, tahu dan tempe serta cah kangkung, kami makan dengan lahap. Total tagihan Rp. 137 ribu, kenyang berenam. Setelah itu kami kembali ke penginapan. Gaddys dan Judas kembali ke Pangkal Pinang.

Setelah didrop di penginapan, tinggal kami berempat. Jalan menuju cottage terasa dramatis. Indahnya laut malam terpantul remang bulan penuh. Malam itu purnama. Saya tidak tahan untuk tidak merekamnya dalam Canonku. Ternyata korob@ juga.

Angin berhembus kencang dari laut, softlens terasa kering di mata. Tapi hamparan pemandangan laut dengan bulan penuh itu membuatku gila, sungguh dramatis. Ingin merengkuh pemandangan sendu itu lekat-lekat dalam hatiku.

Ingatanku jatuh pada satu setting di film “Vicky Christina Barcelona” . Malam waktu Vicky dan Juan Antonio pergi berdua, mereka menonton seseorang memainkan gitar solo. Penontonnya hanya beberapa orang, dan hening. Di gazebo dalam taman yang remang romantis, sang pemainnya menikmati petikan gitarnya mengalunkan lagu klasik.


If only I can have it here. Dalam remang gazebo, dan terpaan angin dari laut yang memantulkan cahaya bulan penuh, lagu klasik apapun akan terdengar sempurna. I’ll request “Canon in D”. Or maybe Vivaldi’s.

Usai foto, kami pun menuju cottage. Kamar tidur kecil untuk kami berempat, namun kamar mandinya luas sekali. Bath-tubnya bisa untuk berendam satu keluarga, lengkap dengan dua wastafel (what for?).

Malam itu, entah mengapa susah sekali untuk saya melelapkan diri. Antara mimpi dan imajinasi, dalam ambang tidur dan sadar, saya berfantasi liar. Tidak pantas untuk saya cerita lebih lanjut. Saya tenang saat terbangun dan tahu itu ternyata cuma mimpi. (Benarkah kata Judas, di Pulau Bangka magic masih sangat kuat?)

Hari kedua, Minggu, saya bangun pertama, bahkan sebelum alarm hp berbunyi. Saya sudah tidak ingin tidur lagi. Sungguh malam panjang yang susah dilewati. Saya segera bersiap, ingin hunting foto sekitar pantai.

Parai indah di pagi hari. Saya menjelajah sampai ke balik restoran ujung. Penuh batu besar dan ternyata matahari terbit dari pantai di baliknya. Menghadap timur rupanya batu-batu itu.

Tidak mudah mencapai batu tinggi di atas. Ada tumbuhan serupa pandan berduri menghadang jalan, di samping batu-batu tajam maupun batu yang licin. Kakiku sempat tergores luka di salah satu batu hitam bercak putih.
















Tapi pemandangan di atas sana sungguh indah. Terik matahari pagi menyiram batu-batu besar. Saya menengadah ke atas dan tampak birunya langit yang menyejukkan hati. Kunikmati kilau cahaya yang memaksaku menyipitkan mata, kurasakan dalam-dalam hangatnya pada tubuhku.

Saya kembali menuju pantai pasir sekitar cottage. Menikmati kesendirianku. Kuhirup dalam-dalam asinnya angin laut. Pasir dalam genggaman, basah dan berai. Telentang di atas pasir, kutatap lagi langit luas di atas. Gradasi biru.

Samar-samar Mak memanggil, mengajak bergabung bersama dia, Korob@ dan Xtin. Lalu kami bermain ombak. Tidak ada water sport apapun, tidak banana boat atau pun rental body board.

Saya berusaha membabtis Mak, tapi dasar wanita perkasa, dia tetap berdiri tegak meski saya telah memanjat ke atasnya untuk menceburkan dia dalam ombak. Ombak saat itu cukup bersahabat, tapi karena tidak ada body board, tidak banyak yang bisa dilakukan.

Usai bermain di pantai dan mandi, kami terburu-buru menuju restoran hotel untuk breakfast, yang akan berakhir jam 10.00. Kami punya waktu setengah jam untuk sarapan sebelum mereka membereskan meja.

Tidak perlu waktu lama untuk sarapan, karena menu yang ada tidak banyak dan rasanya pun standard sekali. Saya memilih sereal coco crunch sebagai pembuka. Selebihnya saya makan bubur dan jus buah.

Gaddys dan Judas datang menjemput. Kami meluncur ke Tanjung Pesona, dan dikenai biaya Rp.10 ribu/orang. Ada taman bermain anak-anak, ada ayunan, jungkat-jangkit dan komidi putar manual yang sudah reot.

Kursi ayunan menggoda untuk diduduki. Segera saya memposisikan tubuh ke atas kursi ayunan. Kembali kita sibuk berfoto. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sana karena hari masih panas.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Pemali, tempat berendam air panas. Tiket masuk Rp. 15 ribu/orang. Sempat ragu untuk masuk awalnya, karena dari luar tampaknya seperti arena kolam renang biasa. Tetapi, di dalamnya ternyata cukup luas, isinya tidak hanya kolam renang saja.

Korob@ langsung masuk ke dalam kolam rendam air panas. Sementara saya dan Xtin hanya merendam kaki sebatas betis, malas untuk membasahi badan. Mak, Gaddys dan Judas pergi ke arah perahu bebek tadi. We splitted.

Ngobrol santai dengan kaki terendam air panas. One tub with one old friend and one new friend, hm...strangely fun. Setelah itu, kami sempat jalan-jalan ke taman, yang ternyata dibuat konsep seperti little zoo, ada orangutan, monyet, elang, ular dan beruang madu.

Sorenya, kami menyempatkan diri singgah sebentar di gereja Sungailiat. Misa hanya ada sekali di hari Minggu jam 7.45 am. Berbincang singkat dengan orang-orang gereja, yang ramah dan welcome.

Menjelang malam, Gaddys membawa kami untuk makan otak-otak Bangka. Judas ditinggal karena mau buka puasa bersama keluarganya. Otak-otak disajikan dalam beberapa pilihan, goreng, bakar atau rebus.

Yang menspesialkan otak-otak Bangka dari yang ada di Jakarta adalah bumbunya. Bumbu otak-otaknya bukan bumbu kacang, melainkan sambal tauco. Favorite saya otak-otak goreng dicocol sambal tauco. Harga Rp. 1.000/piece. Minumannya es kacang merah, rasanya standard saja, harga tidak terdata.

Setelah itu kami menuju ke kontrakan Gaddys. Rumah kecil sederhana, dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Meski sempit dan remang, tapi saya cukup comfort karena warm and welcome-nya Gaddys terhadap kami.

Usai mandi, kami bersiap untuk makan malam. Gaddys mengajak kita ke Istana Laut Restaurant, yang terletak di pinggir Pantai Pasir Padi. Keunikan pantai ini adalah pasirnya yang padat sehingga mobil dan motor pun masih bisa melewati pinggiran pantai.

Restoran dirancang serupa kapal. Pada sisi yang menghadap laut, interior restoran membentuk ujung haluan kapal. Lagi-lagi, saya tergila-gila saat melihat sendunya pemandangan laut malam yang terpantul cahaya bulan penuh. Romantis.

Gaddys merekomendasikan menu ikan pari dimasak lempah, ikan jebung bakar, dan sisanya menu seafood standard Jakarta. Lempah merupakan cara masak special Bangka. Ada lempah darat, berupa daging yang dimasak bumbu lempah;dan ada lempah laut, yaitu ikan, udang atau seafood lainnya yang dimasak bumbu lempah.

Waktu disajikan, ternyata ikan lempah itu semacam masakan kuah kuning dengan potongan daging ikan di dalamnya. Kata teman-teman, rasanya seperti kuah sayur asem.

Menurut saya, menu ini mirip sekali dengan menu orang khek kalimantan, Mun Son Ng. Bedanya, Mun Son Ng lebih berminyak dan ada potongan nenasnya. Perpaduan asam manis dan disusul oleh rasa pedas di ujungnya, really kicked my appetite. Yummy…

Ikan jebung bakar tidak senikmat kelihatannya, beruntung ada kepiting soka yang krispi. Setelah disengat asam pedasnya kuah lempah, lidah saya kemudian disapu dengan es kelapa muda. Sempurna deh makan malamnya.

Setelah itu, Mak mendesak untuk karaoke di atas panggung. Akhirnya kami bertiga, (Mak, Xtin dan saya) menyanyikan tiga tembang yang sumbang kepada tiga pendengar yang hampir mau tumbang. Pemain keyboardnya pun tampak bimbang.

Dengan raga-ragu dan malu-malu, kami menembangkan Sway sebagai pembuka. Lagu berikutnya, Killing Me Softly, dan semakin terbit nyali kami meski penonton tampak geli. Terakhir, kami melantunkan lagu mandarin Yue Liang Dai Biau Wo De Xin. Pemain keyboard tampak lega saat kami melangkah turun dari panggung.

Malamnya, saya (alhamdulilah) tidur nyenyak kamarnya Gaddys yang mungil dan tanpa AC. Ironis memang. Keesokannya, saya yang bangun terakhir.

Hari ketiga, Senin, hari terakhir. Gaddys dan Judas kerja sehingga kami jalan berempat. Berangkat pagi-pagi jam 6.15 meluncur ke Muntok, tempat Bung Karno pernah diasingkan. Korob@ menyetir hi-speed, karena waktu kami tidak banyak, flight pulang jam 16.20.

Dalam waktu tempuh 2 jam, kami tiba di Muntok dalam kondisi kelaparan. Kami tidak menemukan tempat makan di sepanjang jalan menuju Muntok. Segera kami cari warung makan begitu tiba.

Pilihan jatuh pada warung mie Bangka di sebuah ruko. Yang punya adalah orang khek, nyonya gemuk yang berapi-api. Mengerikan melihat dia berbicara, tampak kasar dan galak, padahal teman-teman mendesak saya menanyakan arah jalan kepadanya (dalam bahasa khek tentunya). Sial.

Setelah merangkai kata tanya yang sopan dalam pikiran saya, akhirnya nyali saya hanya mentok untuk bertanya pada karyawannya yang bertugas membersihkan meja. Saya menanyakan arah ke “Rumah Mayor” yang konon, patut dikunjungi.

Rumah mayor adalah sebuah rumah tua yang besar. Tidak terlalu menarik karena kami tidak dapat masuk ke dalamnya. Tampaknya itu masih menjadi tempat tinggal bagi penghuninya, padahal kami mengira itu sudah dimuseumkan.

Kami kemudian meluncur ke Pesanggerahan, Muntok. Sebuah gedung tua di pinggir jalan yang dijadikan museum. Tempat Bung Karno pernah diasingkan. Hampir tidak ada apa-apa yang bisa dilihat di sana. Hanya bangunan tua dengan sepenggal sejarah. Tidak dipungut biaya untuk museum ini.















Setelah itu, Hotel Jati Menumbing menjadi tujuan berikutnya. Hotel Jati Menumbing merupakan museum juga, tempat Bung Karno diasingkan juga. Letaknya lebih terpencil dan memasuki areal yang lebih tinggi, Gunung Menumbing.

Tidak terlalu susah mencarinya, hanya mata perlu melihat lebih awas karena sign yang ada sudah usang dan tulisannya agak kabur. Tiba di Jati Menumbing, udara sejuk datang menyambut.

Tiket masuk Rp.2 ribu/orang dan Rp. 10 ribu/mobil. Di dalam terdapat ruang meeting jaman dulu, kemudian mobil, ruang kerja dan kamar tidur yang pernah ditempati Bung Karno.

Di lantai dua gedung tersebut menghadirkan pesona alam yang lebih menarik. Pemandangan dari ketinggian, pepohonan hijau berpadu dengan langit biru. Angin sejuk dan matahari terik. Kami mengabadikan beberapa pose a la anak band di roof top.

Setelah itu, kami menuju ke Mercusuar di Tanjung Kalian, dekat pelabuhan. Mercusuar dengan beberapa ratus anak tangga, dibangun sejak 1862. Kami menjelajah tiap anak tangga sampai ke puncaknya.

Dari puncak mercusuar, pemandangan laut luas terhampar lebih dari 180 derajat. Rasanya bagai dikelilingi laut. Garis horison batas laut dan langit tampak bias. Hijau, tosca dan biru. Tiga warna bercampur melukis langit dan laut.

Mercusuar adalah spot terakhir kami sebelum kembali ke Pangkal Pinang. Tiba di Pangkal Pinang sore sekitar jam 2 lewat. Kami menyempatkan diri melewati Gereja Katedral, menikmati eksteriornya sekilas.
Kami berencana lunch di Mr. Asui, konon masakan seafoodnya enak. Tiba di sana sekitar jam 3 kurang. Saya agak was-was dengan waktu yang semakin tipis menjelang jam penerbangan kami.

Selesai makan, kami meninggalkan restoran sekitar jam 3.30 pm, yang jika di Jakarta sudah seharusnya kita menuju boarding room. Kami bertemu Gaddys dan Judas (jam kerja yang bebas?). Gaddys meyakinkan kalau kita masih sempat karena airportnya dekat.

Telepon masuk ke hp saya tepat saat mobil saya berhenti di depan airport Pati Amir. Dari Mandala Airlines, menanyakan posisi saya saat itu di mana dan saya diingatkan untuk segera check in. Profesional juga untuk flight seharga Rp. 365 ribu/orang.

Kami check-in terburu-buru, karena saya masih ingin membeli babi panggang di seberang airport, yang katanya enak sekali. Keluar dari pelataran parkir airport, kami disambut seorang ngko.

Ternyata dia menawarkan babi panggang. Mereka berjualan tepat di seberang airport. Nongkrong pada motor masing-masing dan ramai berebut pelanggan. Babi panggang dikeluarkan dari box yang dipasang di belakang motor.

Looked oily, and crispy. Smelled good too. Dia membuka harga Rp. 150 ribu/kg. Akhirnya kami deal di harga Rp. 120 ribu/kg, setelah saya menawar dalam bahasa khek pamungkas.

Setelah bertransaksi, kami pun segera masuk kembali ke airport. Ternyata Gaddys sudah menenteng satu box berisi kerupuk oleh-oleh khas Bangka. So sweet and touchy. Kami berpisah sambil berucap terima kasih dan permohonan maaf untuk kerepotan mereka.

Kami penumpang terakhir yang masuk ke pesawat. Pesawat take off lebih cepat dari jadwal (how come?). Sepertinya inilah habbit maskapai penerbangan dengan tarif murah. Unpredicted, telat sudah biasa, lebih cepat juga bisa. Sooner is better, later doesn’t matter.

Tiba di Jakarta hampir jam 5 pm. Berjalan santai menikmati terminal 3 yang masih baru. Saya dan Xtin searah menuju rumah, sementara Mak dan Korob@ mau ikut religion course mereka jam 6 pm.

Home sweet home. Hampir jam 7 pm tiba di rumah. My bro rushly unpacked the roasted pork. Saya tidak sabar menunggu esok untuk memperlihatkan pada teman-teman foto-foto di Bangka. I’m sure I’ll be back another day.

Thursday, May 14, 2009

I took the sunset for you

(Sambil menahan sakit di pundakku
Aku menulis puisi ini untukmu)


Hari ini aku tak masuk kerja
Sakit kepalaku tak tertahan
Aku harus tidur berbaringan

Terlelap karena obat
Tapi dalam ingatanku masih lekat
Dalam mimpi kamu terasa dekat

Di hati terasa hangat

Terbangun saat senja
Sunyi menjemput sadarku
Kutatap pesona langit jingga
Kuraih kamera, indahnya kurekam untukmu


(suatu senja di atas atap rumah)

Wednesday, May 13, 2009

BERTARUH PADA KUDA

Pertama kali ditawarkan untuk pergi ke Singapore Turf Club, saya sangat bersemangat. Klub Balap Kuda. Hm…benak saya dipenuhi dengan suasana riuh ramai orang-orang yang menyoraki kuda yang dijagokan. Pasti sangat seru dan terasa beda.

Budaya bertaruh pada balap kuda sudah lama ada di masyarakat Tionghoa, baik yang tinggal di Cina, HongKong maupun Singapura atau Malaysia. Masyarakat Tionghoa percaya pada Dewa Keberuntungan, dan mereka pun cenderung mengalokasikan uang mereka untuk mencoba peruntungan dengan bertaruh.

Dengan menggunakan MRT, saya berhenti di stasiun Kranji. Sepertinya, orang-orang yang turun di stasiun ini hampir semuanya memiliki tujuan yang sama, menuju ke Singapore Turf Club. Tepat seperti dugaan teman saya, para pengunjungan klub ini sebagian besar adalah ncek-ncek.

Semua pengunjung klub berjalan gegas dengan koran atau majalah tergulung di tangan. Ternyata koran atau majalah di tangan mereka berisi informasi sekitar balap kuda, untuk membantu mereka menganalisa kuda mana yang patut dijagokan.

Tiba di dalam gedung, tempat sudah ramai pengunjung. Di beberapa spot, diletakkan tv yang menyiarkan balap kuda yang sedang berlangsung di negara lain, seperti HongKong ata Malaysia.

Setiap spot yang diletakkan tv dipenuhi penonton yang bergerombol. Pada saat kuda-kuda yang dilombakan mendekati garis finish, mereka akan bersorak menyemangati kuda yang dijagokan.

Demi ingin merasakan ketegangan seperti penonton yang lain, saya pun ingin ikut bertaruh. Saya pun menanyakan cara ikut bertaruh di bagian informasi, yang ditanggapi dengan jawaban singkat seadanya oleh customer service yang ada. Tampak sibuk dan malas melayani pertanyaan untuk pemain pemula semacam saya.

Akhirnya saya memilih menanyakan pada sesama pengunjung. Melihat para pengunjung yang sebagian besar adalah acek-acek yang kemungkinan besar akan berbahasa mandarin, saya pun memilih sasaran yang masih muda dan diharapkan dapat berbahasa inggris.

Setelah ditanyakan, sang ncik menjelaskan dengan sangat cepat dan dalam bahasa mandarin juga. Dengan bahasa mandarin yang terbata-bata, entahlah kita ‘nyambung’ atau tidak, akhirnya saya pun diajarkan cara ikut bertaruh.

Pertama yang harus dilakukan adalah mengisi form yang ada. Pada form kecil itu, kita dapat memilih perlombaan mana yang dipilih (Singapura, HongKong atau Malaysia). Kemudian, memilih round yang ke berapa dan kuda nomor berapa yang dipilih.

Di dalam Singapore Turf Club, ada sebuah lapangan pacuan kuda yang luas di tengah. Perlombaan di lapangan tersebut akan dimulai pada 13.15. Saya pun memilih memasang taruhan pada perlombaan yang akan saya saksikan langsung di lapangan itu.

Sekarang, memilih kudanya. Profil kuda ditampilkan pada layar raksasa di tengah lapangan. Akhirnya dengan cap-cip-cup, saya memilih kuda nomor lima, Casino Royale namanya. Nama kudanya terdengar keren, dan mengingatkan pada aksi James Bond yang bertaruh di meja judi.

Menjelang 13.15, penonton mulai memadati tribun. Kuda-kuda pun digiring keluar menuju garis start. Pada layar besar di tengah, ditampilkan informasi tentang kuda dan taruhan. Ternyata Casino Royale termasuk kuda underdog, karena paling sedikit dijagokan. Salah strategi sepertinya.

Perlombaan berlangsung tepat pada waktunya. Sebelas kuda berlari mengitari lapangan sebanyak 1 putaran untuk menuju garis final. Perlombaan berlangsung singkat, mungkin dalam hitungan 3 menit.

Kuda yang saya jagokan, ternyata ada di peringkat kedua. Tapi dari belakang. Sepuluh dolarku terbang melayang. Kuda yang menang adalah kuda nomor sembilan, Samurai, memang kuda yang dijagokan banyak penonton.

Usai perlombaan, para penonton pun bubar. Tampak wajah-wajah bersemangat, mungkin mereka menang dan segera ingin menebus karcis mereka dengan uang. Saya bersama penonton berwajah datar yang kalah taruhan, berjalan gontai meninggalkan tribun. Sepuluh dolar untuk merasakan ketegangan satu putaran balap kuda.

Thursday, May 7, 2009

"CATS" Kehidupan Kucing dalam Musik dan Tari

Oleh: Ester





Memory
All alone in the moonlight
I can smile at the old days
I was beautiful then
I remember the time
I knew what happiness was
Let the memory live again

Terdengar beberapa penonton mendendangkan lagu “memory” usai pertunjukan drama musikal Cats yang mengesankan. Pertunjukan yang berdurasi 2 jam 45 menit, dimulai tepat pada pukul 20.00 pm pada Kamis, 29 April 2009 berlokasi di Gedung Esplanade, Singapura.

Penonton sangat antusias dengan pertunjukan tersebut, terlihat tempat duduk yang terisi semua. Harga tiket pertunjukan dimulai dari SGD 40. Tiket termurah terjual habis tidak lama setelah penjualan tiket dibuka.

Saat melangkah masuk ke dalam teater, kesan anggun dan megah sangat terasa. Didukung dengan dekorasi dan tata lampu yang indah, membuat teater tampak mengesankan meski pertunjukan belum dimulai.


Meskipun mendapat posisi seat di balkon level 2, tepat di ujung kanan panggung, saya merasa cukup puas dapat menonton aksi para pemain dengan dekat. Hanya saja view ke arah panggung menjadi miring, dan saya harus duduk agak membungkuk agar pandangan tak terhalang.

Panggung ditata dengans setting di sebuah sudut kota tempat sampah di mana banyak sampah dan barang rongsokan tergeletak, layaknya tempat berkumpul kucing-kucing di malam hari. Suasana semakin hidup didukung oleh tata cahaya yang dramatis.

Para pemain berjumlah 25 orang telah memberikan kejutan sejak awal pertunjukan. Dengan busana dan dandanan menyerupai kucing, mereka ternyata tidak muncul dari belakang panggung. Mereka muncul dari belakang penonton, masuk sambil berlari dan sesekali menyentuh dan mengejutkan penonton dari belakang.

Para pemain bernyanyi, menari dan bertingkah serupa kucing. Sesungguhnya karakter kucing pun serupa karakter manusia. Ada yang perkasa, lemah, manja, playboy, nakal, yang dihormati maupun yang tersingkirkan.

Kucing jantan yang playboy tampil dominan dan penuh percaya diri. Bernyanyi riang dan menari penuh energi, menarik perhatian kucing-kucing betina yang dibuat mabuk kepayang. Aksi si kucing playboy membangkitkan antusias penonton yang beberapa kali dibuat tertawa.

Di sisi lain, tampil dominan menjelang akhir pertunjukan adalah kucing betina tua yang gembel. Kehadirannya ditolak oleh kucing-kucing lainnya. Hatinya yang hancur karena penolakan yang diterima dituangkan dalam lagu ”memory” yang dinyanyikan dengan penuh penjiwaan.

Dalam pertunjukan tersebut, lagu memory dinyanyikan hingga 4 kali. Dinyanyikan dengan penuh penjiwaan, membuat saya merinding berulang kali, bahkan teman saya sampai menitikkan air mata begitu terharunya. Maka tidak mengherankan saat usai menonton acara ini, banyak penonton yang pulang sambil mendendangkan lagu tersebut.

Nuansa musik yang dihadirkan cukup berwarna, seperti pop, klasik, jazz dan seriosa. Penampilan para pemain sungguh luar biasa, sempurna dalam menyanyikan lagu, menari dan terutama penjiwaan peran.

Di tengah pertunjukan, ada jeda 20 menit istirahat. Dalam waktu jeda ini digunakan oleh para pemain Cats untuk berinteraksi dengan penonton. Mereka tersebar dan merayap ke kursi penonton, bertingkah layaknya kucing. Penonton pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berfoto bersama pemain Cats.

Cats adalah drama musikal yang terkenal di dunia. Cats dimainkan selama 18 tahun di Broadway dan telah dipertunjukkan ke lebih dari 26 negara, 300 kota dalam 10 bahasa. Pertunjukan perdana Cats adalah di London pada tahun 1981 dan langsung memenangkan penghargaan Olivier Awards untuk kategori ”Musical of the Year” dan ”Outstanding Achievement of the Year in Musicals”.

Rangkaian musik indah dalam Cats diciptakan oleh musisi legendaris Andrew Lloyd Webber, termasuk lagu ”Memory",. Dengan setting yang imajinatif, tata koreografi dan kostum yang inspiratif, membuat Cats menjadi sebuah drama perpaduan lagu indah dan tarian yang spektakuler.

Cats tampil di Gedung Esplanade, Singapura sejak 10 April 2009 sampai dengan 3 Mei 2009. Pertunjukan yang spektakuler ini sungguh mengesankan dan setimpal dengan harga tiket yang dibayar. Usai menonton Cats, teman saya yang sebelumnya mengkomplain mahalnya harga tiket nonton Cats, berulang kali berkata: WORTH IT BANGET...

Saturday, March 21, 2009

Klinik Menulis Ayu Utami


'Menulis tidak dapat diajarkan, tapi bisa dipelajari', kutipan dari Ernest Hemingway digunakan Ayu Utami untuk mengawali acara Klinik Menulis Ayu Utami, pada Sabtu (14/03/09), yang diadakan di Cafe Bengawan Solo, SPBU Pejompongan.


Acara diselenggarakan atas kerja sama antara Komunitas Pangrango (pangrango.com) dan AyuUtami.com. Komunitas Pangrango merupakan sebuah komunitas penjelajah. Anggotanya yang sering travelling, kerap mengalami kesulitan saat menuangkan pengalaman perjalanan mereka dalam bentuk tulisan.


Ayu Utami adalah seorang wartawan dan novelis. Novel-novel karyanya Saman, Larung dan Bilangan Fu merupakan bestseller di Indonesia. Pada waktu senggang Ayu meluangkan waktu untuk memanjat tebing dan mendaki Gunung Gede di Taman Nasional Gede, Pangrango, Jawa Barat.


Dalam acara ini, Ayu Utami berbagi beberapa tips untuk menulis. Hal pertama yang diperhatikan sebelum menulis adalah menetapkan tujuan penulisan. Apakah untuk tujuan untuk dipublikasikan sebagai pemberi informasi atau tidak. Ayu mengingatkan, sebuah tulisan yang baik itu terdiri dari 3 bagian yaitu pembuka, isi dan penutup. "Hal ini telah kita pelajari sejak Sekolah Dasar, namun sering terlupakan", kata Ayu.


Acara diskusi tersebut dihadiri oleh sekitar 14 orang peserta yang mayoritas adalah wanita. Para peserta sebelumnya telah mengirimkan contoh tulisan mereka untuk dibaca oleh Ayu Utami. Ayu memberikan komentar dan kritik pada masing-masing tulisan. Pada sesi tanya jawab, para peserta tidak melewatkan kesempatan untuk meminta masukan dari Ayu untuk mengatasi hambatan mereka dalam menulis.


"Jika sebuah tulisan yang dihasilkan terasa kurang berisi dan terlalu ringan, setidak-tidaknya hasilkanlah tulisan yang mampu menghibur pembacanya", kata Ayu. Acara sore itu yang berlangsung selama 2,5 jam, ditutup dengan foto bersama Ayu Utami. Peserta yang sebagian besar adalah penggemar buku Ayu, telah menyiapkan buku untuk ditandatangan oleh pengarangnya.


Acara selesai pukul 5 sore, dan para peserta tampak puas dan bahagia setelah bertemu dengan penulis favorit mereka. "Acara diskusi ini membuat saya semakin percaya diri dalam menulis. Dan sosok Ayu Utami merupakan inspirasi tersendiri untuk saya, tidak hanya dalam berkarya, tapi juga way of life." kata salah satu peserta.(est)

Wednesday, February 11, 2009

Trip to Pangandaran and Green Canyon

Setetes air jatuh dari atas mengenai wajah saya, tepat saat perahu yang kutumpangi memasuki areal bertebing tinggi. Air menetes dari celah-celah batu di langit-langit. Sejuk, bening dan hijau.

Green Canyon, 45 menit dari Pantai Pangandaran, adalah keindahan alam perpaduan sungai, tebing dan hutan. Di ujung sore itu, dengan sisa-sisa jingga senja, suasana Green Canyon terasa dramatis.

Awalnya, saya dan xtin hanya berniat untuk pergi ke Pantai Pangandaran. Bagi penjelajah pemula semacam saya, memutuskan untuk berangkat berdua saja sudah merupakan tantangan tersendiri.

Perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran ditempuh dengan bus dari Terminal Kampung Rambutan. Kami berencana berangkat dini hari. Tiba di terminal 03.00 am.

Surprise!!! Terminal masih sangat sepi, dan jelas tidak ada aktivitas sama sekali. Begitu memasuki terminal, kami langsung dipalak bayar seribu per orang oleh satu bapak yang entah muncul dari mana.

Ternyata bus langsung menuju Pangandaran hanya ada Perkasa Jaya yang akan berangkat 06.30 am. Harus menunggu beberapa jam lagi baru berangkat, sempat menciutkan semangat saya.

Menunggu dalam ketidakpastian berangkat atau tidak sungguh menyiksa. Masa penantian diisi dengan rasa kantuk, komunikasi yang banyak diam, keputusan yang menggantung, dan akhirnya kami tetap berangkat.

Bus Perkasa Jaya tanpa AC berangkat 06.50 am. Perhentian pertama 10.00 am di Nagrek, Garut. Tiba di Pangandaran 02.30 pm. Naik becak Rp. 20 ribu, menuju hotel Aquarium yang ketemu di Yellow Pages dan sudah dibooking sebelumnya. Rate hotel Rp. 245 ribu.

Sepanjang Pantai Barat dipenuhi oleh hotel-hotel kecil dengan view ke pantai. Mungkin untuk hotel-hotel lain di belakangnya bisa dapat rate lebih murah. Setelah check in, kami langsung mengunjungi Cagar Alam.

Tiket masuk Cagar Alam Rp. 5.500,-/orang. Ada yang menawarkan jasa tour guide seharga 65 ribu, yang tentu saja kami tolak, because it’s a low budget trip. Hutan itu sering dijadikan sebagai tempat shooting film kolosal.

Selain Cagar Alam, tidak banyak yang bisa dinikmati di samping pantainya sendiri. Pantainya pun sesungguhnya tidak terlalu istimewa. Namun, karena saya ini pecinta pantai, jadi tetap saja terasa nikmat diterpa angin laut yang asin dan lembab.

Untuk makan malam, di sepanjang Pantai Barat hanya ada 3 restoran, Mungil Steak (penuh oleh turis asing), Only One Resto, dan Bamboo Café. Kami memilih Only One, dan makanan yang dipesan lama sekali keluarnya. Soal rasa, yah begitulah.

Setelah makan malam, tidak banyak yang bisa dilakukan, jadi kami memilih istirahat saja. Keesokannya, kami menyewa sepeda gandeng dengan tarif Rp. 10 ribu/jam. Kami keliling perkampungan sekitar dan menjaring info tour ke Green Canyon.

Rata-rata paket tour menggunakan mobil, maka terasa mahal untuk low budget trip kami. Bahkan untuk naik ojek ke sana pun masih terasa mahal juga. Akhirnya xtine berpikir untuk menyewa motor saja, dan dia yang bawa.

I thinked she’s crazy. Dia baru belajar naik motor dari bapaknya, belum, tiba-tiba mengajukan diri bawa motor memboncengi saya di jalanan kampung 2 ruas bolak-balik, dengan jarak tempuh 45 menit. Bahkan kami belum tahu jalan menuju sana. Gila…

Menolak pada awalnya, tapi karena prinsip low budget yang ketat, mau tidak mau keselamatan saya dinomorduakan. “Bisalah…”, ucapnya berulang-ulang. Melecehkan reaksi saya yang menurutnya worry too much.

Akhirnya ada seorang bapak yang mau menyewakan motornya, Rp. 60 ribu dari jam 2 pm sampai jam 6-an pm. Diajarin dulu cara starter motor, karena xtine kagok tiba-tiba. Tampaknya si pemilik sedikit menyesal menyewakan motornya ke kami.

Setelah makan siang, kami berangkat ke Green Canyon. Dengan petunjuk ala kadarnya dari pemilik motor, ternyata memang tidak susah menemukannya

Total waktu tempuh 45 menit tiba pukul 4.30 pm. Jam operasionalnya sampai jam 05.00 pm. Sewa perahu yang maksimal bisa dimuat 6 orang seharga Rp. 75 ribu. Satu perahu cuma saya, xtine, dan dua orang petugasnya.

Diawali dengan pemandangan sungai yang biasa saja, kemudian melewati jeram kecil dengan air yang semakin jernih. Pemandangan spektakuler hadir saat memasuki gua dengan tebing tinggi kehijauan. Stalagtit gelantungan di langit-langit gua.

Mata air dari celah batu di atas meneteskan kesejukan di wajah saya. I felt so relieve. Perjalanan dengan perahu berakhir di batu besar di dalam gua. Batu dengan mudah bisa dipanjati. Di baliknya ada cerukan besar dengan air bening dan hangat.

Kami ditawari untuk berenang, tapi karena sudah berencana untuk langsung pulang setelah dari sana, akhirnya kami cuma main air sebisa mungkin tanpa membasahi pakaian.

Wisata di Green Canyon menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Pulang dari sana, setelah mengembalikan motor, kami langsung ke terminal mencari bus ke Jakarta. Sempat makan malam di warung ayam panggang dalam terminal.

Pulang dengan bus Perkasa Jaya dengan AC, berangkat 07.00 pm. Tiba di Terminal Kampung Rambutan 03.00 am esokannya (Senin). Sampai rumah 04.00 am. Berangkat ke kantor 06.30 am.

Ironisnya, paginya saya malah merasa segar dan tidak lelah. Sudah tidak sabar ingin menceritakan pengalaman seorang penjelajah pemula kepada anak-anak kantor. Maksud hati ingin sedikit menyombongkan diri, apa tanggapan mereka?

“Ha? Pergi berduaan aja? Pulang pergi 16 jam dalam bus? Berangkat Sabtu pagi pulang Senin dini hari? Niat banget sih? Kalo gue sih ogah deh…”

My Little Paradise

Stomach cram and headached came along during menstruation, something that I already get used to. Tiring day as usual, since its my first menstruation day. Went to hospital before lunch, appointment with a shy n cute skin specialist in Mitra Keluarga Hospital. He removed “fish eye” in my foot. He cut it with a tiny scissor. It hurted a little, but no big deal. Actually, I thought im going to have a surgery, thank God, no need to.

Going to office after escaping to Hospital, having lunch in the office. Suddenly, feeling a little dizzy and unwell. Feeling so sure that its my period, and im blaming my self for forgetting to consume Kiranti 3 days before. Cause its kinda work for reducing the cram…a lot…

And again, thank God, its not raining on 5.30 pm. Going home as soon as I play zuma long enough to make me surrender on the 12-1 level. Planning to go bed as soon as I can…The headached is so disturbing. Feeling weak too.

Feeling a little hungry (what a big eater, I’ve just finish my light dinner), but there’s not any snack left in the kitchen (I really wish my tongue can touch the salt of Pringle’s chips or my teeth can chew those crispy Mr Potato)…

Try to find something in the kitchen to feed my appetite. Sadly, nothing left but some instant food….instant cappucinno. Yippy….I cant refuse to drink it. Actually I don’t know the criteria to define coffee addiction. But, I’ve been consuming black coffee in small portion since many years ago. When I find out something not right with my gastric, I try to stop consume coffee. Ever since then, I found it kinda hard for me passing the day, feel sleepy all day long and not fit enough to do anything. But, I get through it.

Yeah…enjoying my hot cappucinno while listening to my music … And I used to called it “my little paradise”.

Little Paradise = Hot Coffee + Good Music

Or

Little Paradise = Good Novel + Good Music

Or

TRUE HEAVEN = GOOD NOVEL + HOT COFFEE + GOOD MUSIC

My God, I’ve just realized its been too long I didn’t experience my little paradise. How can I forget this…

Drinking this cappucinno, pump up my spirit..but still leaving me with my headached. But the music healed me already hehehe…
Listen repeatly to “Love Song” by Simply Red…
Soaking me deep inside the ocean of extacy…

Taste it…Lets get drunk together…in my little paradise...